Menanti hujan reda memang menjemukan, tapi banyak orang yang menyukainya daripada harus sengaja membasahi diri dengan airnya. Hujan kali ini memang agaknya akan lama, cukup untuk mengisi got di tepi jalan ini dan yang paling penting adalah cukup untuk membuat alat pengukur emosi teman Saya, Kriz bertambah skalanya. Padahal menurut Saya jika kita diam dan sabar menanti walaupun lama, hujan akan berhenti juga.
Banyak hal yang dapat dilakukan di tempat yang selalu disinggahi Bis ini, siang ini, dan ketika hujan masih terus saja merapatkan barisan airnya. Salah satunya adalah dengan mengamati apa yang dilakukan oleh setiap orang disekitar Saya. Di tempat ini ada 14 orang yang berusaha untuk sabar menanti hujan berhenti. Tapi tunggu dulu, ternyata Kriz menghitung ulang seluruh manusia di sini dan hasilnya ada 13 orang. Gabungan dua angka yang mampu untuk membuat orang-orang barat berusaha capek-capek ingin menghilangkannya. Teman Saya memang benar di sini hanya ada 13 orang.
Saya mulai tidak sabar mengamatinya satu demi satu. Kelompok Pertama, 4 orang berpasangan yang sepertinya memang dua pasang kekasih yang saling berteman, wow, jika ditambah 5 pasang lagi Saya seperti di “ruang paradoks cinta”, yang ini sudah ah, Saya tidak mau memperpanjang lagi malah muntah nanti, seperti kemarin hahaha…
Kelompok Kedua, 2 orang anak SMA yang sok jagoan memegang puntung rokok yang menyala sambil kedinginan, padahal kan belum waktunya pulang atau mungkin mereka belum berangkat? Hmm, kalau sampai Orang Tua mereka tahu pasti sudah dibelikan Kambing Jantan dan disuruh memeliharanya daripada sering membolos sekolah, hehe… Bercanda.
Tepat di samping tempat ini ada sebuah lapak kecil dengan 2 orang suami istri pemiliknya, dilihat dari raut mukanya tampak sedih. Saya heran juga kenapa dari dulu belum juga ada Satpol PP yang mengusirnya ? Apa belum waktunya? Atau ada salah satu anaknya ada yang menjadi Satpol PP ? Jadi seperti sudah ada orang dalam yang melindunginya, Semoga saja demikian.
Kelompok terakhir ini sepertinya yang akan menjadi semacam tokoh utama di cerita fiksi yang kali pertama ditulis ini. Empat orang yang duduk berjajar sebaris, Seorang Ibu yang sudah berusia kira-kira 50 tahun membawa sebuah tas yang dari tadi mencoba untuk menahan mengantuk. Disebelahnya lagi ada seorang Bapak dengan ponsel yang selalu melekat di tangannya, dengan memakai kaca mata dia seperti menunjukkan kelihaiannya dalam mengutak-atik ponsel High End itu. Kemudian Saya, yang dari tadi sibuk mengamati semua orang yang ada disini, tapi agak aneh kenapa Kriz tidak melakukan hal yang sama dengan Saya. Ternyata dari sejak Dia menghitung ulang semua orang, Dia sambil mendengarkan dan berbagi cerita dengan seorang perempuan misterius yang berada di samping kanan Saya.
Inilah orang ke-13, seorang perempuan dengan tubuh kurus dengan wajah sedikit pucat dengan membawa payung ditangannya yang dari tadi sibuk ngobrol dengan Kriz, tapi sayang karena Saya tidak memperhatikan dengan jelas tentang apa Dia berbicara bersama Kriz, andai saja Saya tadi tidak sibuk sendiri memperhatikan orang-orang itu. Kalau tidak salah sepertinya Dia bercerita tentang masalah yang ada pada dirinya dan tentang salah seorang keluarganya, tapi entahlah perempuan ini, ya orang ke-13 ini.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar