Rabu, 29 Februari 2012

Ada Elegi Diantara Hujan Siang Itu



         Menanti hujan reda memang menjemukan, tapi banyak orang yang menyukainya daripada harus sengaja membasahi diri dengan airnya. Hujan kali ini memang agaknya akan lama, cukup untuk mengisi got di tepi jalan ini dan yang paling penting adalah cukup untuk membuat alat pengukur emosi teman Saya, Kriz bertambah skalanya. Padahal menurut Saya jika kita diam dan sabar menanti walaupun lama, hujan akan berhenti juga.
                Banyak hal yang dapat dilakukan di tempat yang selalu disinggahi Bis ini, siang ini, dan ketika hujan masih terus saja merapatkan barisan airnya. Salah satunya adalah dengan mengamati apa yang dilakukan oleh setiap orang disekitar Saya. Di tempat ini ada 14 orang yang berusaha untuk sabar menanti hujan berhenti. Tapi tunggu dulu, ternyata Kriz menghitung ulang seluruh manusia di sini dan hasilnya ada 13 orang. Gabungan dua angka yang mampu untuk membuat orang-orang barat berusaha capek-capek ingin menghilangkannya. Teman Saya memang benar di sini hanya ada 13 orang.
               Saya mulai tidak sabar mengamatinya satu demi satu. Kelompok Pertama, 4 orang berpasangan yang sepertinya memang dua pasang kekasih yang saling berteman, wow, jika ditambah 5 pasang lagi Saya seperti di “ruang paradoks cinta”, yang ini sudah ah, Saya tidak mau memperpanjang lagi malah muntah nanti, seperti kemarin hahaha…
              Kelompok Kedua, 2 orang anak SMA yang sok jagoan memegang puntung rokok yang menyala sambil kedinginan, padahal kan belum waktunya pulang atau mungkin mereka belum berangkat? Hmm, kalau sampai Orang Tua mereka tahu pasti sudah dibelikan Kambing Jantan dan disuruh memeliharanya daripada sering membolos sekolah, hehe… Bercanda.
           Tepat di samping tempat ini ada sebuah lapak kecil dengan 2 orang suami istri pemiliknya, dilihat dari raut mukanya tampak sedih. Saya heran juga  kenapa dari dulu belum juga ada Satpol PP yang mengusirnya ? Apa belum waktunya? Atau ada salah satu anaknya ada yang menjadi Satpol PP ? Jadi seperti sudah ada orang dalam yang melindunginya, Semoga saja demikian.
                  Kelompok terakhir ini sepertinya yang akan menjadi semacam tokoh utama di cerita fiksi yang kali pertama ditulis ini. Empat orang yang duduk berjajar sebaris, Seorang Ibu yang sudah berusia kira-kira 50 tahun membawa sebuah tas yang dari tadi mencoba untuk menahan mengantuk. Disebelahnya lagi ada seorang Bapak dengan ponsel yang selalu melekat di tangannya, dengan memakai kaca mata dia seperti menunjukkan kelihaiannya dalam mengutak-atik ponsel High End itu. Kemudian Saya, yang dari tadi sibuk mengamati semua orang yang ada disini, tapi agak aneh kenapa Kriz tidak melakukan hal yang sama dengan Saya. Ternyata dari sejak Dia menghitung ulang semua orang, Dia sambil mendengarkan dan berbagi cerita dengan seorang perempuan misterius yang berada di samping kanan Saya.
             Inilah orang ke-13, seorang perempuan dengan tubuh kurus dengan wajah sedikit pucat dengan membawa payung ditangannya yang dari tadi sibuk ngobrol dengan Kriz, tapi sayang karena Saya tidak memperhatikan dengan jelas tentang apa Dia berbicara bersama Kriz, andai saja Saya tadi tidak sibuk sendiri memperhatikan orang-orang itu. Kalau tidak salah sepertinya Dia bercerita tentang masalah yang ada pada dirinya dan tentang salah seorang keluarganya, tapi entahlah perempuan ini, ya orang ke-13 ini.

Bersambung...

Rabu, 04 Januari 2012

60 Detik Parade Ingatan Lalu
 
        Menyusuri jalanan di sebuah Kota memang mempunyai keunikan dan pengalaman tersendiri, walaupun itu cuma sebentar, seperti 12 bulan yang lalu cuma mampir di sebuah warung kopi di pinggir jalan di Kota lain bersama teman-teman, atau seperti sahabat Saya yang satu ini. Walaupun hanya 60 detik terdiam di tempat yang strategis sudah banyak pula ingatan yang cukup untuk ditaruh di dalam satu scene. 
         Siang ini memang panas, tapi untungnya jalanan ini sudah menyediakan pepohonan yang lumayan untuk sekedar membagi oksigen. Tampak melintang papan reklame besar di atas jalan. Tahun lalu masih juga sama dengan ukuran yang sama pula, dengan gambar unik, dunia lain yang dingin penuh salju dan beruang dengan bertuliskan “ Peringatan Pemerintah: Merokok Dapat Menyebabkan Kanker, Serangan Jantung, Impotensi, dan Gangguan Kehamilan, dan Janin”. Saya sempat berpikir juga, jika tidak mereka siapa lagi yang sanggup membayar reklame pesan yang berlawanan dengan maksud dan tujuannya, di sisi lain ada para pekerja yang tak kenal lelah menyelesaikan sebuah proyek bangunan perbelanjaan dan tampak melintas beberapa pengamen yang selalu setia mengenakan baju gelap bergaris vertikal dan blangkon seperi jaman dahulu. Di sana, 11 tahun yang lalu ada sebuah tragedi penjarahan, kerusuhan etnis, perkosaan, kemarahan, yang sangat tidak sesuai dengan julukan Kota ini, tapi sudahlah mungkin ini hanya kesalahan teknis perilaku sekumpulan masyarakat di Kota ini. 
            Tak lupa pula, mata Saya tertuju pada sebuah papan jalan dan Saya sangat terkesan dengan semua tulisan nama papan jalan ini. Mengingatkan Saya pada sebuah kejadian di bangku sekolah, yang mewajibkan semua anak sanggup menulis jenis huruf seperti di papan nama jalan di Kota ini di depan kelas satu persatu, sangat susah ditiru memang. Tapi belum setengah dari semua anak mendapat jatah menulis kalimat di papan tulis kapur, bel tiga kali sudah berbunyi , entah kenapa lega rasanya. Itu jika bel berbunyi tiga kali, tapi jika bel terdengar berkali-kali dengan gaya kemarahan seperti sekarang rasanya aneh juga. 
          Upss.., ini bukan bunyi bel sekolah tapi bunyi banyak klakson kendaraan meraung-raung di belakang Saya dan memaksa Saya untuk bergerak. Wah, tak terasa 60 detik sudah Saya terdiam menunggu lampu berubah warna menjadi hijau di perempatan ini. Sekali lagi Kota ini memang menyajikan sesuatu yang unik.

Senin, 02 Januari 2012

Saya dan Semut yang Menatap Saya

Saya dan Semut yang Menatap Saya


Pagi ini, seperti biasa dan seperti hari-hari sebelumnya Kami yang selalu saja menikmati teh panas bersama, masih juga ditemani kicauan burung di pagi hari. Entah ini suatu kesengajaan atau kebetulan yang dibuat-buat, pagi ini terasa lain. Apa yang membuatnya lain? Setelah berpikir sejenak ternyata memang lain keadaannya. Ditemani dengan frekuensi 92.9 Mhz dengan suara Adithia Sofyan menyanyikan lagunya "Memilihmu" dan 52 halaman surat kabar nasional yang selalu tidak lupa menyajikan iklan 1 halaman yang katanya kesukaan teman Saya itu.
Selang kira-kira 3 menit berlalu, munculah 3 semut dari balik cangkir teh. Dengan tanpa sengaja Saya menatapnya begitu pula sebaliknya. Melihat sungutnya yang naik turun melambai, waduh Saya sungguh benar-benar tidak suka, serasa ada tiga makhluk aneh yang lewat mengejek Kami berdua dan terbesit di otak Saya untuk membinasakannya. Dasar Kriz yang selalu menginginkan khayalan tentang sesuatu, Dia mulai mengkhayal dan mengibaratkan tiga semut tadi dengan tiga personel "Netral" yang tidak kuat mendengar lagu yang Kami dengarkan dan berjalan sambil mengusung alat-alat musiknya mencari tempat untuk memainkan lagu "Desaku" Ciptaan Ibu Sud yang diaransemen ulang.
Tapi kenapa semut ini hanya lewat? kenapa tidak menemani Kami meminum teh? kenapa tidak memanggil semua temannya? Ternyata Saya baru teringat kalau secangkir teh ini lupa tidak diberi gula. Seketika itu Saya dan Kriz berterimakasih pada tiga makhluk bersungut tadi. Mungkin ini terjadi juga di dunia nyata dengan skala yang lebih besar, ya, bencana-bencana ini mungkin sudah ada tanda-tandanya tapi sering kali kita tidak bisa memahami sebelumnya, sebelum ini, dan sebelum terlambat.