60 Detik Parade Ingatan Lalu
Menyusuri jalanan di sebuah Kota memang mempunyai keunikan dan pengalaman tersendiri, walaupun itu cuma sebentar, seperti 12 bulan yang lalu cuma mampir di sebuah warung kopi di pinggir jalan di Kota lain bersama teman-teman, atau seperti sahabat Saya yang satu ini. Walaupun hanya 60 detik terdiam di tempat yang strategis sudah banyak pula ingatan yang cukup untuk ditaruh di dalam satu scene.
Menyusuri jalanan di sebuah Kota memang mempunyai keunikan dan pengalaman tersendiri, walaupun itu cuma sebentar, seperti 12 bulan yang lalu cuma mampir di sebuah warung kopi di pinggir jalan di Kota lain bersama teman-teman, atau seperti sahabat Saya yang satu ini. Walaupun hanya 60 detik terdiam di tempat yang strategis sudah banyak pula ingatan yang cukup untuk ditaruh di dalam satu scene.
Siang ini memang panas, tapi untungnya jalanan ini sudah menyediakan
pepohonan yang lumayan untuk sekedar membagi oksigen. Tampak melintang
papan reklame besar di atas jalan. Tahun lalu masih juga sama dengan
ukuran yang sama pula, dengan gambar unik, dunia lain yang dingin penuh
salju dan beruang dengan bertuliskan “ Peringatan Pemerintah: Merokok
Dapat Menyebabkan Kanker, Serangan Jantung, Impotensi, dan Gangguan
Kehamilan, dan Janin”. Saya sempat berpikir juga, jika tidak mereka
siapa lagi yang sanggup membayar reklame pesan yang berlawanan dengan
maksud dan tujuannya, di sisi lain ada para pekerja yang tak kenal lelah menyelesaikan
sebuah proyek bangunan perbelanjaan dan tampak melintas beberapa
pengamen yang selalu setia mengenakan baju gelap bergaris vertikal dan
blangkon seperi jaman dahulu. Di sana, 11 tahun yang lalu ada sebuah
tragedi penjarahan, kerusuhan etnis, perkosaan, kemarahan, yang sangat
tidak sesuai dengan julukan Kota ini, tapi sudahlah mungkin ini hanya
kesalahan teknis perilaku sekumpulan masyarakat di Kota ini.
Tak lupa pula, mata Saya tertuju pada sebuah papan jalan dan Saya
sangat terkesan dengan semua tulisan nama papan jalan ini. Mengingatkan
Saya pada sebuah kejadian di bangku sekolah, yang mewajibkan semua anak
sanggup menulis jenis huruf seperti di papan nama jalan di Kota ini di
depan kelas satu persatu, sangat susah ditiru memang. Tapi belum setengah dari semua anak mendapat jatah menulis kalimat di papan tulis kapur, bel
tiga kali sudah berbunyi , entah kenapa lega rasanya. Itu jika bel
berbunyi tiga kali, tapi jika bel terdengar berkali-kali dengan gaya
kemarahan seperti sekarang rasanya aneh juga.
Upss.., ini bukan bunyi bel sekolah tapi bunyi banyak klakson
kendaraan meraung-raung di belakang Saya dan memaksa Saya untuk
bergerak. Wah, tak terasa 60 detik sudah Saya terdiam menunggu lampu
berubah warna menjadi hijau di perempatan ini. Sekali lagi Kota ini
memang menyajikan sesuatu yang unik.